Islamisasi Demokrasi

22 Nov

Sebuah  Jalan Menuju Rahmatallilalamin

Oleh: Abdurrahim M.*

Salah satu yang penting untuk dikaji dan diduskusikan adalah pembahasan demokrasi. Demokrasi yang selalu muncul tiap ranah-ranah dunia pemerintahan. Dalam hal ini dinilai formalitas belaka dan hanya dalam ruang maya. Penilaian dan pembahasan tentang demokrasi harus terus dikaji sampai titik temu terhadap eksistensi demokrasi tersebut, agar demokrasi itu benar-benar ada subtansinya.

Dalam diskusi kali ini bagaiamana sistem demokrasi ini berjalan sesuai dengan defenisinya apa belum, bahwa sudah sepenuhnya untuk rakyat apa belum atau sebaliknya dari rakayat yang memandang pemerintahan. Oleh karena itu mari kita kritisi bersama-sama, tidak hanya eksistensi demokrasi tersebut tetapi juga ranah-ranah yang ada sangkut pautnya dengan dunia keislaman. Apakah demokrasi di dalam islam itu ada atau sebaliknya?

Pada sesungguhnya islam adalah agama yang murni dari Sang pencipta, begitu juga ajaran-ajaran yang dikandung dalam islam. Kemurnian islam itu ada bila umatnya memkai dasar kitab suci dan Al-hadist, dalam melaksanakan aktivitas kesehariannya dengan segala pemecahannya. Di dalam alqur’an pun disebutkan pada surat As-Suro:10 yang berbunyi “ Dan apa yang kalian perselisihkan tentang sesuatu maka kembalinya pada hukum Allah”

Pada ayat diatas ada pengertian yang tersirat bahwa dalam memacahkan permasalahan-permasalan di dunia tidak lain dasarnya hanyalah pada alqur’an dan al-hadist. Dan pada ayat lain disebutkan bila tidak memakai dasar-dasar tersebut kita semua akan merasa rugi atau zalim. Bila seperti itu sangat kontroversi sekali bahwa islam menerima demokrasi, jika demokrasi tersebut datangnya dari non islam.

Istilah demokrasi ini pada dasarnya datang dari Aristoteles, sedangkan hakikat demokrasi itu sendiri adalah proses penetapan hukum ditengah-tengah manusia sepenuhnya berdasarkan kehendak rakyat itu sendiri. Akan tetapi dalam islam tidak ada istilah Demorasi yang ada hanyalah Musayarah. Terus apakah sama pengertian antara demokrasi dengan musyawarah?

Seperti pengertian demokrasi tadi sepenuhnya dari rakyat yang mempunyai pendangan hidup atau norma tersendiri yang memiliki sistem kehidupan tertentu, sedangkan musyawaroh merupakan metode pengambilan pendapat. Dengan demikain tidak ada hubungannya antara demokrasi dan musyawaroh sungguh sangat berbeda jauh dari segala bentuk aplikasi dan asal pemikirannya.

Misalnya amar ma’ruf, dalam islam merupakan suatu hal yang mahmudah dan sangat dianjurkan oleh agama islam karena dalam kitab sucipun dijelaskan. Namun dalam pemerintahan apakah bisa dipakai sumber pegangan bila demokrasi sepenuhnya oleh rakyat, dan padahal istilah amar ma’ruf tersebut ruang pelasanaannya menuju ke hukum-hukum islam dan tuhan.

Kemudian musyawaroh merupakan metode dalam islam untuk memecahkan masalah,  dan masalah tersebut membutuhkan ijtihad , pemikiran yang mendalam serta strategi dari orang yang lebih mengerti, dan berpakar. Seperti dalam aplikasinya musyawaroh digunakan jika masalah dunia tidak ada dalinya dan kebenaran atau keputusannya tidak diukur dengan suara yang banyak.

Apakah penjelasan tadi benar adanya dalam islam?

Islam adalah agama yang Rahmatallilalamin dan begitu universal. Jika penjelasan seperti tadi bahwa istilah demokrasi tidak ada dalam islam, itu sangat menyalahi agama sendiri karena islam lahir untuk rahmat seluruh alam dan memahami segala aspek kehidupan, rahmatallilalamin ini berarti alqur’an sudah mendenefisikan, dan islam yang universal bahwa demokrasi itulah bentuk kekholifahan islam dan musyawaroh itulah subtansi dari musyawaroh.

Memang demokrasi bukan dari islam tetapi dalam demokrasi tersebut ada relasi hablumminannas yang mendalam yang saling mempengaruhi demikian pula musyawaroh, karena islam pun telah biasa melakukan musyawaroh dalam memecahkan dan menyelesaikan masalash.

Oleh karena itu islam yang rahmatallilalamin, sangat kritis terhadap realita memposisikan manusia demi kebahagiannya. Dan sangat tidak mungkin jika islam membuat umatnya sengsara didalam masalah-maslahnya. Walupun wacana dan pemikiran demokrasi datangnya bukan dari islam, islam menerima karena didalam demokrasi ada hubungan sosial hablumminannas yang sangat kuat, dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Diskusi selanjutnya apa yang dinamakan demokrasi yang baik?

Jika demokrasi berasal dari bahasa yunani, demos yang berarti rakyat dan kratos adalah pemerintahan. Berarti ada relasi yang kuat anatara golongan atas yakni pemerintah dan golongan bawah yakni masyarakat. Pemerintah harus memahami penuh kondisi rakyatnya dan begitu juga sebaliknya masyarakat juga harus mengerti tentang tahap pemerintahan. Demokrasi erat kaitannya dengan kekuasaan maka dari itu pemerintah sebelum berkusa membutuhkan masyarakat untuk mencapinya. Jika salimg memahami antara pemerintah dan masyarakat akan sedikit tercapainya demokrasi.

Dengan demikian dalam demokrasi ada unsur-unsur islam yakni saling hormat menghormati dan saling menghargai anatra orang atasan dan bawahan serta mengantarkan jalan atau cara untuk kesejahteraan pada masyarakat umum. Itulah wujud penerimaan islam terhadap pemikiran non islam (islamisasi). Karena prinsip dalam islam menerima nilai-nilai yang baru yang lebih baik dalam ranah apapun dan tidak lupa memelihara menerima nilai-nilai lama yang baik” sehingga nilai-nilai dalam islam lebih rahmatallilalamin. Sodaqollahul adzim….!!!

Mahasiswa Menegement KI/IV

One Response to “Islamisasi Demokrasi”

  1. th291986 November 22, 2010 at 10:14 pm #

    hai gamna pendapat temen2…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: